Inilah Gangguan Mental yang Ada pada Lansia

Posted on April 23, 2021 in Kesehatan Lansia by

Gangguan mental pada lansia adalah masalah dari kesehatan yang menyebabkan perubahan emosi pada lansia, pikiran pada lansia, dan juga perilaku yang ada pada orang lanjut usia. Kondisi yang satu ini dapat menyebabkan lansia kesulitan untuk berfungsi sebagaimana mestinya dalam keluarga, urusan pekerjaan, dan juga beberapa kegiatan sosial. Gangguan mental terdiri dari banyaknya jenis, akan tetapi ada beberapa gangguan mental yang paling umum dapat menyerang lansia. Berikut ini ada beberapa gangguan mental yang dialami oleh lansia. Berikut diantaranya.

Gangguan Mental pada Lansia

  • Depresi yaitu gangguan suasana hati yang membuat seseorang terus merasa sedih dan kehilangan minat.
  • Gangguan kecemasan adalah cemas berlebihan dan sangat mudah khawatir pada hal-hal yang dianggap normal oleh orang lain.
  • Bipolar disorder yaitu perubahan suasana hati ekstrem yang membuat orang merasa sangat bahagia dan merasa sedih serta depresi.
  • Skizofrenia adalah penyakit kejiwaan yang menyebabkan seseorang tidak bisa membedakan kenyataan dan khayalan.

Seberapa Umumkan Kondisi ini

Hasil riskesdas tahun 2018 menunjukan prevalensi penyakit depresi tertinggi ada pada lansia. Tercatat prevalensi depresi pada usia 55-64 tahun sebesar 6,5 persen, usia 65-74 tahun sebesar 8 persen, dan usia di atas 75 tahun sebesar 8,9 persen.

Berdasarkan peringkat, penyakit depresi pada lansia menduduki peringkat pertama sebagai penyakit mental yang paling umum menyerang. Kemudian, disusul dengan gangguan kecemasan, skizofrenia, dan bipolar disorder.

Tanda & Gejala Gangguan Mental pada Lansia

Setiap jenis gangguan kejiwaan pada lansia menimbulkan gejala yang berbeda. Berikut ini penjelasan tanda dan gejala sesuai dengan jenis gangguan kejiwaan yang dimiliki lansia.

#1 Tanda dan gejala depresi pada lansia

Pada lansia, rasa sedih bukanlah gejala utama dari depresi yang mereka idap. Terlebih, orang yang lebih tua juga enggan untuk meminta bantuan pada dokter. Itulah sebabnya, depresi pada usia ini lebih sulit dikenali ketimbang pada orang yang usianya lebih muda. Meski begitu, ada beberapa gangguan mental depresi yang umumnya ditunjukkan lansia, seperti dilansir dari laman Mayo Clinic, di antaranya:

  • Perubahan kepribadian dan daya ingat juga memburuk.
  • Sering kali mengalami nyeri otot.
  • Kelelahan disertai kehilangan nafsu makan dan minat pada seks menurun, yang tidak disebabkan oleh masalah kesehatan lain maupun pengobatan.
  • Sulit untuk tidur dan menarik diri dari lingkungan.
  • Terbesit pikiran untuk bunuh diri, terutama pada pria.

#2 Tanda & Gejala Gangguan Kecemasan

Gejala gangguan kecemasan yang menyerang lansia tidak berbeda jauh dengan orang dewasa maupun remaja, meliputi:

  • Merasa gugup, gelisah, dan tegang karena berasumsi dirinya sedang dalam bahaya.
  • Tubuh berkeringat dan gemetar, detak jantung meningkat, serta napas juga menjadi lebih cepat.
  • Berusaha keras menghindari hal-hal memicu kecemasan hingga mengalami kesulitan tidur.
  • Sering kali mengalami masalah pencernaan.

#3 Tanda & gejala skizofrenia

Sama seperti gangguan kecemasan, skizofrenia juga menimbulkan gejala yang umumnya sama pada lansia maupun orang dewasa yang usianya lebih muda. Namun, gejala yang berbeda pada tiap pasien sangat mungkin terjadi. Berikut adalah gejala dari gangguan mental skizofrenia pada lansia.

  • Delusi yaitu berupa keyakinan yang tidak sesuai pada kenyataan, contoh merasa orang lain membenci atau mencintai kalian padahal tidak demikian).
  • Halusinasi, misalnya mengaku melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
  • Sering berbicara ngawur dengan kalimat yang acak.
  • Gerakan tubuh menjadi lebih lambat atau melakukan suatu gerakan tanpa tujuan secara berlebihan.
  • Kehilangan minat pada aktivitas sehari-sehari, sehingga mengabaikan kebersihan diri.

#4 Tanda & Gejala Bipolar Disorder

  • Mengalami gejala depresi, seperti terus merasa sedih, lelah, sulit tidur, dan terbesit untuk bunuh diri.
  • Menunjukkan episode mania dan hipomania, yakni kondisi yang membuat seseorang menjadi sangat bersemangat hingga melakukan tindakan tidak rasional, yang bisa merugikan diri sendiri atau orang lain.

Kapan Harus ke Dokter?

Lansia yang menderita gangguan kejiwaan umumnya enggan untuk memberi tahu kondisi yang dialaminya pada orang lain. Oleh karena itu, kalian sebagai keluarga atau pengasuh harus lebih jeli dalam mengawasi perubahan perilaku maupun suasana hati mereka. Jika kalian sebagai keluarga atau pengasuh melihat tanda dan gejala yang disebutkan di atas pada lansia, segera periksa ke dokter.

Penyebab Gangguan Mental pada Lansia

Setiap jenis gangguan mental yang menyerang lansia memiliki penyebab yang berbeda-beda. Penyebab depresi diketahui meliputi perubahan biologis dan senyawa kimia di otak, ketidakseimbangan hormon tubuh, serta kemungkinan diwariskan dalam keluarga.

Sementara gangguan mental pada lansia seperti bipolar disorder, tidak diketahui penyebab pastinya. Begitu juga dengan gangguan kecemasan, skizofrenia, dan bipolar disorder. Meski begitu, kondisi ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh adanya kelainan fungsi dan senyawa kimia di otak, serta kombinasi genetik tertentu. Pada beberapa kasus, gangguan kecemasan bisa disebabkan oleh efek samping obat-obatan dan masalah kesehatan lain, seperti penyakit jantung, diabetes, atau gangguan tiroid.

Faktor Resiko Gangguan Mental Pada Lansia

Meskipun penyebab pasti dari gangguan mental pada lansia tidak diketahui secara pasti, ilmuwan telah menemukan berbagai faktor yang bisa meningkatkan resiko nya. Berikut ini adalah faktor risiko dari depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, dan bipolar disorder.

  • Korban pelecehan seksual atau kekerasan fisik di masa lalu menimbulkan trauma yang memicu depresi dan gangguan kecemasan.
  • Stres karena memiliki penyakit kronis, ditinggalkan orang yang dicintai, memiliki masalah keuangan, masalah pekerjaan, atau masalah keluarga.
  • Riwayat keturunan dengan depresi, gangguan kecemasan, skizofrenia, atau bipolar disorder.
  • penyalahgunaan obat-obatan, seperti narkoba dan memiliki kecanduan alkohol.
  • Cenderung mudah cemas, pesimis, self esteem yang rendah dan suka mengkritik diri sendiri.
  • Dilahirkan dari ibu yang mengalami komplikasi kehamilan, seperti kekurangan zat gizi, terpapar racun, atau terinfeksi virus yang mengganggu perkembangan otak.

Komplikasi Gangguan Mental Pada Lansia

Gangguan mental yang terjadi pada lansia harus diobati segera. Jika tidak, bisa menimbulkan berbagai komplikasi, di antaranya:

  • Kualitas hidup yang memburuk karena sulit untuk menjalin hubungan dengan keluarga, dan orang di sekitar dengan baik.
  • Kesehatan tubuh menjadi lebih buruk. Pada beberapa kasus, kecemasan dan stres bisa menyebabkan penyakit jantung, obesitas, dan gangguan pencernaan kronis.
  • Dapat menyebabkan cacat tubuh atau kematian jika penderitanya melakukan percobaan bunuh diri.

Diagnosis & Pengobatan Gangguan Mental

Agar komplikasi tidak terjadi dan kualitas hidup lansia dengan penyakit mental bisa ditingkatkan, mereka perlu menjalani pengobatan. Sebelum pengobatan dilakukan ahli kejiwaan akan meminta pasien untuk menjalani serangkaian tes kesehatan dan kemudian menegakkan diagnosis. Berikut ini adalah beberapa tes kesehatan untuk mendiagnosis gangguan mental pada lansia.

  • Tes fisik. Pada tes ini dokter akan menanyakan gejala apa saja yang dialami pada pasien dan anggota keluarga atau pengasuh. Selain itu, dokter juga akan melihat riwayat kesehatan pasien dan keluarga.
  • Tes laboratorium. Pada tes ini dokter mungkin akan memeriksa fungsi tiroid, jantung, atau kondisi otak pasien lewat tes darah, elektrokardiogram, ekokardiogram, dan tes pencitraan.
  • Evaluasi psikiatri. Dokter akan bertanya tentang gejala, pikiran, perasaan, dan pola perilaku pasien. Dokter juga akan meminta pasien untuk mengisi kuesioner.
  • Panduan DSM-5. Dokter dapat menggunakan kriteria depresi, gangguan kecemasan, bipolar disorder, atau skizofrenia yang tercantum dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5).